Kamis, 01 September 2011

Sembako Gratis, Potret Kemiskinan yang Menggurita

Tribun Timur - Jumat, 26 Agustus 2011 19:56 WITA

Wajah kemiskinan rakyat Indonesia semakin tampak ketika momen Ramadan dan mendekati momen lebaran tiba. Sebagaimana kasus-kasus yang mewarnai berita di media, cenderung menggambarkan ribuan rakyat Indonesia yang berlomba-lomba datang untuk meminta bantuan dan belas kasihan dari si kaya.

Indonesia merupakan salah satu negara yang terbilang cukup lamban dalam membenahi kasus kemiskinan. Persentase angka kemiskinan mencapai 30,02 juta orang atau sekitar 12,49 persen dari total penduduk Indonesia.

BPS mencatat, pada bulan Maret 2011, mereka dikatakan miskin karena dalam sebulan pengeluaran mereka tidak lebih dari Rp 233.740, dengan pengeluaran yang sangat minim dan kurang dari standarisasi nominal tersebut. Dapat dibayangkan betapa sulitnya kondisi perekonomian mereka sehari-hari.
Setelah beberapa hari yang lalu negeri ini mencapai usianya yang ke 66 tahun, namun kenyataanya usia yang relatif sudah tua tersebut belum mampu menuntun negeri ini keluar dari belenggu kemiskinan. Jumlah mereka tidak sedikit, dan hal demikian akan terus terpupuk dalam siklus negeri premature yang tak pernah terputus.
Kemiskinan terus menjadi cerita klasik yang berputar-putar pada satu titik tanpa ada upaya yang betul-betul jitu untuk membawa rakyat Indonesia keluar dari sangkar kemiskinan. Negeri ini masih sangat kental dengan identitas miskin yang cenderung menuntun kita tetap bermain pada ranah ketertinggalan dibanding bangsa-bangsa lainnya yang telah jauh melambaikan tangannya pada taraf hidup yang lebih makmur dan sejahtera.
Penyelesaian kemiskinan di negeri ini hanya cenderung dilaporkan dengan data-data statistik yang tidak menggali secara mendalam makna di balik kemiskinan yang melanda rakyat Indonesia. Ataupun turut melepaskan sejenak jas dan dasi untuk menengok ke bawah fenomena derita mencari sesuap nasi yang dirasakan oleh ribuan rakyat Indonesia.
Bagaimana menuntun mereka keluar dari kemiskinan itu sendiri, itu yang perlu digali, bukan semata laporan statistik yang memperlihatkan angka-angka yang hanya menjadi berita buruk bahwa kemiskinan terus meningkat setiap tahun.
Apa penyebab kemiskinan itu sendiri? Apakah karena mekanisme pemerintahan kita yang cenderung amburadul hingga berdampak sangat besar dalam membangun perekonomian rakyat Indonesia? Ataukah mental bangsa kita memang sudah tertanam jiwa-jiwa pasrah dan merasa dirinya memanglah orang miskin dari sononya?
Potret kemiskinan di negeri ini sudah menjadi gambaran secara morfologis yang tidak bisa dielak, kemiskinan telah terpupuk subur di tanah air kita Indonesia. Ketika kita berjalan melewati setiap sudut kota di negeri ini, tidak sedikit kader-kader pengemis yang terus memupuk kebiasaannya meminta belas kasihan dari orang lain, mulai dari anak-anak hingga orang tua, orang cacat, orang yang berpura-pura cacat hingga orang yang sempurna sekalipun.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh penulis mengenai motif anak turun ke jalan di kota Makassar, tampak adanya gambaran bahwa habitat menjadi pengemis di pinggir jalan sudah mereka nikmati sejak kecil. Bahkan, terdapat informen yang mulai dari beberapa turunan kakek nenek sebelumnya, ayah dan ibunya bahkan dia sendiri telah menikmati dunia ciliknya menjadi pengemis. Sebuah pekerjaan yang tidak perlu mengeluarkan energi yang terlalu besar, namun bisa mendapatkan uang untuk makan.

Pengemis Menjamur


Karakter bangsa yang sangat sulit diubah, meski pemerintah sekalipun mengeluarkan larangan yang melarang mereka turun ke jalan, namun tidak ada pekerjaan dan pendapatan yang bisa membalas pendapatan mereka setiap harinya. Ya, pemerintah tidak mampu membiayai mereka dengan biaya yang setimpal jika dibandingkan dengan pekerjaan mereka turun ke jalan mengemis.
Budaya memberi dan belas kasihan dari si kayapun tidak bisa dihindari, sehingga jalanan menjadi surga bagi mereka yang menerima belas kasihan dari orang-orang yang prihatin. Momen Ramadan hingga lebaran tampak menjadi momen yang paling tepat untuk mengeluarkan zakat dan sedakah untuk diberikan kepada sanak saudara kita yang dianggap miskin dan kurang beruntung itu.
Bantuan dari orang kaya memang sangat berarti, terlebih untuk memenuhi kebutuhan mereka menjelang lebaran. Pendapatan mereka yang hanya cukup untuk makan, jelas tidak mampu membiayai kebutuhan anak-anaknya yang juga ingin mengenakan baju baru dan embel-embel lebaran lainnya. Terlebih tradisi harga sembako dan kebutuhan lainnya yang cenderung meningkat jika menjelang lebaran dan bulan puasa.
Entah apa maksud pemerintah meningkatkan harga kebutuhan pokok di momen-momen tersebut, padahal itulah saatnya rakyat sangat membutuhkan, akhirnya yang miskin semakin kesulitan dalam menjangkau harga kebutuhan pokok yang semakin mahal. Fenomena pembagian sembako gratispun menjadi berita panas yang membuka kedok mental SDM Indonesia yang masih dibelenggu oleh kemiskinan.
Wajah kemiskinan rakyat Indonesia semakin tampak ketika momen Ramadan dan mendekati momen lebaran tiba. Sebagaimana kasus-kasus yang mewarnai berita di media, cenderung menggambarkan ribuan rakyat Indonesia yang berlomba-lomba datang untuk meminta bantuan dan belas kasihan dari si kaya. Si kaya cuma satu orang. Namun si miskinnya mencapai ribuan orang.

Cerita Klasik
Hampir setiap tahun saat bulan puasa dan menjelang lebaran diwarnai dengan adanya pembagian zakat serupa dan bahkan sampai jatuh korban jiwa karena saling berdesakan dan saling mendorong. Sangat menyayangkan sampai adanya warga yang meninggal dunia sebelum menikmati hasil bahkan masih dalam keadaan mengantri dan harus meregang nyawa karena kehabisan nafas.
Hanya kondisi kemiskanan yang sudah sedemikian parahlah yang mendorong mereka nekat untuk berdesak-desakkan seperti itu, meskipun dengan resiko bakal mati dan terinjak-injak. Sampai kapankkah kondisi ini terus berlanjut?
Inilah potret cerita klasik negeri ini. Tidak bisa dipungkiri bahwa kemiskinan masih sangat terasa dan transparan. Pemerintah janganlah bangga melaporkan perkembangan ekonomi negeri ini, buktinya masih banyak rakyat miskin yang pendapatan perharinya sangat tidak mencukupi kebutuhan keluarga. Dalam pidato dikatakan bahwa persentase angka kemiskinan yang katanya terus menurun hanyalah cerita belaka, realisnya hanya sebatas catatan buram di atas kertas putih. Kesenjangan sosial masih sangatlah tinggi di negeri ini. Yang kaya makin kaya dan yang miskin semakin tak berdaya. Rakyat kecil terus tertindas.
Saatnya gerakan nyata dari pihak pemerintah menuai bukti yang realistis, rakyat butuh tuntunan menuju masyarakat yang mandiri. Kemiskinan memang merupakan masalah kompleks yang tidak mudah diatasi. Namun, dengan pendekatan yang tepat, kemiskinan akan lebih mudah didekati. Penanggulangan kemiskinan memerlukan pemahaman mengenai dimensi dan pengukuran kemiskinan yang operasional.
Setelah kemiskinan dapat dipotret secara akurat, strategi antikemiskinan dapat dikembangkan. Strategi tersebut sebaiknya menyentuh pendekatan langsung dan tidak langsung, skala kecil maupun skala besar, yang dilakukan secara simultan dan berkelanjutan. Semoga sangkar kemiskinan hari ini hanyalah penjara sementara yang tidak permanen, namun sewaktu-waktu dapat terbuka menuju rakyat Indonesia yang sejahtera jika ada manajemen yang sistematis dan serius dari pemerintah.***

Oleh : Indah Arnaelis
Mahasiswi ICP Biologi/MIPA Universitas Negeri Makassar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar